Minggu, 12 Agustus 2018

Lama ditinggalkan.....

Hari ini...... disaat sedang menata file file dihardisk laptop tanpa sengaja ketemu file pintasan ke Blog Masyarakat Miskin Tidak Lemah yang saya buat untuk menulis setiap pikiran yang muncul di kepala saya sehingga pikiran tersebut tidak lewat begitu saja karena saya yakin setiap pikiran yang datang di kepala saya adalah berkat dari Tuhan... Terakhir postingan saya pada bulan September 2010 berarti sudah hampir 8 tahun saya tidak aktif menulis pada Blog ini.....

Hari ini...... Saya yakini bahwa ini bukan suatu kebetulan belaka tapi saya yakin bahwa ada rancangan Tuhan yang sedang terjadi dan hanya menunggu waktu untuk dapat memahami apa maksud dari rancangan Tuhan untuk saya diingatkan tentang Blog ini.....

Hari ini..... Suasananya sudah jauh berbeda pada waktu terakhir saya menulis pada Blog ini.... Waktu itu saya masih PNS aktif dan semangat untuk meniti karier PNS dengan berusaha untuk memberikan yang terbaik dari hidup saya untuk daerah NTT tercinta masih begitu menggebu gebu. Saat ini saya sudah pensiun sebagai PNS atas permintaan sendiri (Pensiun Dini). Hampir setahun saya sudah menjalani status ini.... Saya merasa sudah cukup untuk berkiprah dalam karya kehidupan melalui profesi sebagai PNS..... Saatnya saya berkarya sebagai pribadi yang bebas untuk berbuat yang terbaik walaupun itu hanya setitik nokhtah yang mungkin tidak berarti dalam pandangan orang lain..... Namun... Itulah saya yang selalu berprinsip lebih baik berbuat walaupun kecil masih jauh lebih baik daripada tidak berbuat sama sekali.....

Hari itu...... Di Tahun 2011 pada bulan Agustus ya pada bulan yang penuh dengan semangat patriotisme tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2011 saya menjejakan kaki saya bersama istri di Kabupaten TTS sebagai pribadi untuk mencari lahan untuk membuat kebun dan Puji Syukur pada Tuhan karena pada saat itu kami diperkenankan untuk mendapat sebidang tanah di Kampung Oenali Desa Mnelalete Kec. Amunaban Barat Kabupaten TTS setelah kurang lebih 1 tahun kami mencari cari lahan...... Ya.... Saat itu saya mulai merealisasikan mimpi saya untuk menjadi seorang petani.... Mencoba menerapkan ilmu pertanian yang saya dapat dari Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana.... Mencoba merealisasikan mimpi saya untuk menjadi Petani Bunga Potong di NTT.... Mulai dari menanam sampai memasarkannya di Kota Kupang, Ibukota Provinsi NTT.... Banyak petani dan pengusaha tanaman hias tapi saat itu belum ada yang khusus bergerak di bunga potong.... Itulah sebabnya walaupun saya tinggal di Kota Kupang yang kurang lebih berjarak 118 km untuk mencapai lokasi kebun saya tapi itu tidak menyurutkan semangat saya karena saya sadar bahwa usaha bunga potong ini akan sangat baik kalau dilakukan di SoE Timor Tengah Selatan yang merupakan dataran tinggi di Pulau Timor ini.....

Hari ini.... Saya sadar bahwa ternyata mulai dari saat itu mulai terbesit dalam pikiran saya untuk suatu waktu saya akan berhenti dari PNS untuk menjadi seorang petani.... menjadi seorang pengusaha..... Ya memang aneh disaat usia semakin lanjut malah berpikir untuk keluar dari zona nyaman bahkan tidak tanggung tanggung menjadi petani .... Salah satu profesi yang dipandang sebelah mata bahkan tidak pernah lagi ada anak/anak muda yang bercita cita menjadi petani.... Kenapa ? Yah profesi petani itu tidak lepas dari kesan miskin, kotor, bau, kerja berat, dan tidak menguntungkan.... Itulah pandangan umum yang ada saat ini... Tapi karena itulah saya tertantang dan untuk membuktikan bahwa pandangan itu salah... Petani adalah profesi yang mulia dan dari bertani bisa menjadi kaya dan berpengaruh...... Memang tidak mudah.... tidak gampang.... tapi paling tidak, saya ada dalam proses itu.....

Hari ini..... Oleh karena proses itulah (Mungkin, saya tidak berani menilai diri sendiri) kemudian saya ditawarkan oleh Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) untuk menduduki jabatan Kepala Divisi Agribisnis pada Badan Pengelola Usaha Undana... Tapi.... siapakah yang tahu rancangan Tuhan, dalam perjalanan proses itu saya malah ditetapkan sebagai Kepala Badan Pengelola Usaha Undana... Itulah kebesaran Tuhan... Kemahakuasaan Tuhan...... Yah ternyata saya harus kembali mengabdi pada Almamater tercinta... Berjuang bersama seluruh Civitas Akademica untuk bersama membangun Undana menuju visi Gobal University dalam status barunya sebagai Badan Layanan Umum (BLU)..... Bekerja keras secara bersama sama untuk mengembangkan Undana sebagai BLU dan mulai berani bermimpi untuk suatu waktu Undana akan mencapai status Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTBH)....

Hari ini.... Saya berbagi sedikit dari karya Tuhan dalam hidup saya ini.... Mudah2an saya bisa menulis lagi untuk berbagi secara khusus tentang Bagaimana membangun usaha bunga potong di Kota Kupang dan kisah kisah lainnya.... Bila Tuhan berkenan maka pasti lambat atau cepat akan terjadi.... Dan saya yakini bahwa semua itu indah pada waktu Nya.... Amin.

Senin, 13 September 2010

Proviciat Kawan........

Adalah menjadi suatu kebanggaan bila ada salah satu teman kita mendapatkan penghargaan atas suatu prestasi apalagi penghargaan itu bukan hanya tingkat Provinsi atau tingkat Nasional tapi ini penghargaan bertaraf Internasional............... Sangat membanggakan......

Suatu prestasi bukan didapat dengan mudah, misalnya hanya tidur-tiduran, duduk bermalas- malasan, bekerja asal jadi, tidak tekun dan lain sebagainya tapi suatu prestasi bisa dicapai kalau kita bekerja keras, bekerja dengan sungguh-sungguh, bekerja cerdas, pantang menyerah, mau berkorban, mempunyai komitmen yang tinggi, membangun jejaring dan lain sebagainya. Apalagi pekerjaan yang harus di hadapi bukanlah pekerjaan yang gampang atau ringan yaitu pemberdayaan masyarakat miskin di daerah kritis dan terpencil....... Dan organisasi yang menjadi penggerak hanyalah suatu LSM........... kalau berhasil ..... LUAR BIAAAASAAA.... !!!!!

Inilah dasar pikiran kenapa saya harus berbangga pada saat mendapatkan informasi bahwa teman saya, Ir. Vincent Nurak, Direktur Yayasan Mitra Tani Mandiri di Kabupaten Timor Tengah Utara – NTT mendapat Penghargaan dari UNDP (salah satu badan dunia dibawah PBB) berupa Equator Awards khusus di bidang Lingkungan dan Pengembangan Ekonomi Kerakyatan. Saat ini Pak Vincent sedang dalam perjalanan ke Markas Besar PBB di New York untuk mengikuti berbagai rangkaian kegiatan dan puncaknya pada tanggal 20 September 2010 nanti akan menerima penghargaan tersebut.

Memang pantas bahkan sangat pantas...... Bila kita ikuti jejak Pak Vincent khususnya pada waktu kita bermitra dalam pengembangan suatu program pemberdayaan masyarakat, yaitu PIDRA di NTT, Pak Vincent dengan Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) mendapatkan tanggung jawab untuk wilayah Timor Tengah Utara (TTU) mulai dari tahun 2001 sampai dengan berakhirnya pendanaan program pada Desember 2008 begitu banyak prestasi yang telah ditunjukkan oleh para petani yang tergabung dalam Kelompok Mandiri (KM), Lembaga Pembangunan Desa (LPD) dan Federasi sebagai gabungan KM yang ada di satu desa ( 10 KM) baik dalam manajemen/administrasi organisasi, kegiatan usaha ekonomis produktif, perbaikan/pelestarian lingkungan (SDA), membangun jejaring sehingga terbentuknya asosiasi pemasaran bersama sehingga benar-benar dapat meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani serta memperbaiki lingkungan hidup terutama mengendalikan ladang berpindah dan sistim tebas bakar melalui pembangunan terasing yang begitu luas serta ribuan lubang atau jalur olahan yang dikenal dengan teknologi olah lubang dan olah jalur. Dan yang paling mengesankan adalah setelah PIDRA selesai pada Desember 2008 sampai saat ini 17 Desa Program PIDRA masih terus di dampingi oleh YMTM bahkan replikasi pendekatan program dengan berbagai penyempurnaan metode telah di kembangkan oleh YMTM ke desa – desa lain di TTU melalui dukungan dana dari berbagai donor seperti ANTARA dan lain-lain.

Kemudian sebgai bahan refleksi apakah kita hanya puas dan berbangga saja terhadap prestasi teman kita ini? Bagi saya pribadi, ada beberapa hal positif yang dapat menjadi motivasi dan sekaligus upaya perbaikan cara kerja kedepan, antara lain :

1. Ini suatu pembuktian bahwa bila kita mau dan sungguh-sungguh melakukannya maka tidak ada yang tidak bisa; Petani-petani (masyarakat desa) yang kita anggap bodoh, tidak mampu dan miskin tapi kalau kita dampingi dengan benar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi orang-orang yang hebat bahkan kadang diluar dari prediksi kita. Disisi lain dari pekerjaan seperti ini dapat mengantarkan seorang Vincent Nurak dari TTU untuk sampai ke New York dan menerima penghargaan bertaraf internasional, siapa yang sangka?

2. LSM lokal adalah suatu potensi besar yang apabila diajak bermitra dapat menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan di daerah NTT tercinta ini. Kapasitas mereka sudah teruji dan terbukti, sehingga kenapa pemerintah musti ragu untuk menggandeng LSM, memberikan dana kepada LSM untuk turut berpartisipasi dalam mengentaskan kemiskinan di NTT dan memajukan serta mensejahterakan masyarakat NTT.

3. Masih banyak stakeholder lainnya di NTT ini yang bisa mempunyai potensi untuk diajak bekerjasama (bermitra) untuk bersama-sama instansi pemerintah terkait untuk membangun NTT terutama membangun perekonomian NTT terutama mengembangkan perekonomian pertanian NTT yang menjadi gantungan hidup 80% masyarakat NTT.

Sekali lagi saya ingin katakan, tinggalkan cara kerja lama karena tuntutan zaman sudah berubah, paradigma pembangunan sudah berubah dan banyak potensi yang bisa kita optimalkan perannya untuk menuju suatu tatanan yang lebih baik.

Mudah-mudah Pak Vincent tidak berhenti sampai disini saja, Pak Vincent jangan terbuai dengan penghargaan ini, Pak Vincent tidak lupa dengan masyarakat kecil yang telah mengantar kesuksesan ini............ Saya yakin Pak Vincent akan bekerja lebih baik lagi, Pak Vincent akan membagi seluruh kemampuannya kepada semua pihak yang membutuhkannya dan Pak Vincent akan mengembangkan kerjasama lebih intensif lagi dengan pemerintah kabupaten, provinsi maupun nasional.

Mudah-mudah kita semua teman-teman Pak Vincent maupun pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat tidak hanya berbangga tapi juga mau menggandeng Pak Vincent, LSM –LSM, Sektor swasta lainnya untuk bersama-sama pemerintah membangun NTT untuk menuju NTT Baru yang lebih sejahtera dan NTT Baru yang lebih berjaya. Amin....

Proviciat Kawan......

Minggu, 30 Mei 2010

Manajemen Pembangunan NTT

Rasanya sudah terlalu lama saya meninggalkan blog tercinta ini oleh karena berbagai kesibukan pekerjaan saya. Banyak hal yang ada dalam mimpi saya, tapi belum sempat dituangkan dalam tulisan. Sekarang saya coba menuangkan satu mimpi saya tentang model pembangunan NTT yang lebih kepada tata kelola keuangan daerah. Apakah judul diatas tepat atau tidak bila dibandingkan dengan isi tulisan ini saya mohon maaf.....

Nusa Tenggara Timur (NTT) lebih dikenal sebagai daerah miskin karena PAD nya masih sangat rendah dan untuk membangun NTT masih sangat tergantung dana dari luar (DAU, DEKONSENTRASI, TUGAS PERBANTUAN, DAK dan sebutan lainnya). Disamping itu perekonomian NTT masih sangat tergantung pada investasi pemerintah dan ini terlihat jelas sekali pada saat bulan Januari - Maret setiap tahunnya aktivitas perekonomian NTT lesu karena pada saat itu dana pemerintah belum cair atau masih dalam tahapan tender/proses pengadaan dan persiapan administrasi lainnya. Itulah kondisi kita dan itulah yang kita punya.

Disisi lain, sepertinya kita ("Pemerintah"??) kurang menyadari itu atau apalah istilahnya tentang kondisi ini. Kenapa? Kalau kita lihat investasi di NTT sangat minim apalagi di bidang pertanian kalau dibandingkan dengan dana yang sudah dikeluarkan untuk promosi potensi NTT ke seluruh Indonesia dan berbagai penjuru dunia kelihatannya tidak sebanding dengan perkembangan usaha pertanian di NTT. Dalam satu tulisan/pikiran saya terdahulu pernah dibahas dan saya berpikir bahwa seharusnya Pemerintah dengan dana yang ada mustinya diinvestasikan untuk membangun suatu usaha pertanian yang berskala menengah sampai besar untuk membuktikan bahwa memang potensi itu ada dan benar benar bisa memberikan hasil yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat NTT. Saya percaya bahwa itu akan menjadi motivasi untuk tumbuhnya usaha-usaha pertanian lain di kabupaten/kota se NTT.

Begitu pula dalam pemanfaatan APBD Provinsi NTT dana yang ada lebih diarahkan untuk membangun khususnya di bidang pertanian, setiap tahun tidak kurang puluhan milyard rupiah yang dianggarkan untuk berbagai kegiatan pertanian (Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Peternakan) tapi bila dibandingkan dengan hasilnya seperti peningkatan produksi ataupun peningkatan produktivitas atau juga perluasan areal tanam atau peningkatan populasi kayaknya tidak sebanding (bisa dilihat dengan jelas pada angka angka statistik pertanian NTT). Barangkali kalau dihitung secara matematis dari dana perluasan areal atau peningkatan populasi sejak tahun 1980 an sampai sekarang laut pun sudah tertanam pohon jeruk, jambu mente, kopi, atau jagung, padi dan lain-lain. Selain itu karena pola bantuan pemerintah yang sekarang dikenal dengan istilah Bansos (Bantuan Sosial) membuat masyarakat NTT menjadi sangat tergantung dengan pemerintah. Pemerintah seperti sinterklass atau hartawan yang selalu membagi hartanya kepada masyarakat tapi masyarakatnya tidak bertambah sejahtera bahkan menjadi orang-orang yang marah karena namanya tidak terdaftar dalam Bantuan Beras Miskin (Raskin) ataupun Bantuan Langsung Tunai (BLT). Point utama yang ingin saya bahas dalam tulisan/pikiran ini adalah Kita NTT mengaku miskin tapi tata kelola keuangan daerah kita seperti hartawan/sinterklass.

Mustinya (menurut saya), tata kelola keuangan daerah kita harus diperhitungkan setiap pengeluaran per rupiah dengan hasilnya. Untuk sektor pertanian misalnya, dana yang dikeluarkan untuk mengembangkan jagung harus diperhitungkan dana tersebut dapat mengembangkan berapa luas areal jagung (benih, saprodi dll), berapa produktivitasnya sehingga akan menghasil produksi jagung berapa banyak. Diatas kertas ini bisa dihitung tapi kenyataan nya di lapangan bagaimana? Kalau hal ini saja tidak menjadi perhatian serius pemerintah maka jelas setiap tahun kita hanya menghabiskan dana APBD kita.
Dalam pikiran saya, mestinya pemerintah menargetkan dari seluruh dana APBD setiap tahunnya berapa persen yang harus kembali (diluar pendapatan). Contoh, Bila pemerintah menganggarkan untuk pengembangan jagung Rp. 10 Milyard maka minimal 90% dana tersebut harus kembali. Mustahil????? Tidak. kalau pendekatannya bukan bagi-bagi benih dan saprodi kepada Kelompoktani (cara lama) tapi dengan pendekatan baru, yaitu melalui pengembangan agribisnis yang sebenar benarnya (bukan hanya nama program). Bila Rp. 10 Milyard tersebut digunakan dengan cara, sewa lahan petani (Dataran Oesao misalnya) kemudian di dataran tersebut pada musim tanam kedua ditanami jagung. Maka kita dapat melihat secara jelas bukti bahwa pada luasan tertentu ada jagung yang tertanam, luas tanamnya harus benar benar ekonomis. Pada waktu jagung siap di panen dapat mengundang para pembeli untuk penawaran harga. Kemudian setelah disepakati harga dan jagung tersebut di panen dapat langsung di kapalkan keluar NTT oleh pembelinya. Cara ini sangat menguntungkan baik untuk petani, pedagang, pemerintah maupun perekonomian NTT. Kenapa? (1). Biaya produksi jagung dapat ditekan karena lahan yang digunakan pada musim tanam kedua berarti telah diolah sebelumnya, masih ada residu pupuk yang belum terpakai sehingga pemupukannya bisa setengah rekomendasi, air tersedia cukup, (2) petani bisa mendapatkan 2 (dua) pendapatan sekaligus yaitu pendapatan dari sewa lahannya dan sekaligus bisa mendapatkan pendapatan sebagai tenaga kerja, (3) Lahan kompak dan transportasi lancar, (4) Keberhasilan program pemerintah dapat terlihat secara langsung, (5) Motivasi bagi para pengusaha untuk mengembangkan usaha sejenis, (6) Akan tercipta pasar sarana produksi baru sehingga terjadi persaingan harga dari produsen sarana produksi artinya saprodi menjadi tersedia dan murah dan (7) Akan tumbuh usaha jasa pendukung lainnya. Disamping itu jelas sekali bahwa Rp. 10 Milyard tersebut akan kembali karena dari penjualan jagung tersebut dikurangi biaya produksi dan biaya operasional lainnya dapat langsung disetor kembali ke rekening pemerintah provinsi. Hitungannya, bila hanya kembali Rp. 8 Milyard saja, menurut saya sudah untung karena biasanya dana untuk kegiatan sejenis tidak kembali Rp. 1 pun apalagi kalau diperhitungkan dengan 7 (tujuh) keuntungan tersebut diatas...... wah menguntungkan sekali.

Seandainya program pemerintah dengan pendekatan seperti tersebut diatas dapat dilakukan pada beberapa kegiatan pembangunan maka dana APBD tidak habis dipakai tapi ada dana APBD yang dikembalikan setiap tahunnya sehingga kalau diprogram sekitar Rp. 100 - 200 Milyard dengan pola tersebut maka setiap tahunnya ada Rp. 100 - 200 Milyard yang dapat digunakan kembali untuk program pembangunan di tahun yang akan datang. Bayangkan 5 (lima) tahun yang akan datang kita akan mendapatkan Rp. 1.000 milyard/ Rp. 1 Trilyun.
Bandingkan dengan pola lama, 1 (satu) Dinas Teknis diberikan anggaran pembangunan selama 1 (satu) tahun sebesar Rp. 30 Milyard dan target pendapatan dari Dinas Teknis tersebut hanya Rp. 130 juta. Manakah yang menguntungkan?

Tentu pola ini tidak bisa digeneralisir tapi perlu dipetakan (1) program dan kegiatan yang sifatnya Bantuan Sosial murni khusus untuk membantu masyarakat sangat miskin yang tidak berdaya secara ekonomis, (2) program dan kegiatan yang sifatnya bantuan pinjaman lunak untuk membantu masyarakat yang mulai tumbuh usaha ekonomis produktifnya dan (3) program dan kegiatan yang sifatnya pinjaman dengan bunga tertentu untuk masyarakat yang usahanya benar-benar sudah tumbuh dengan baik namun perlu untuk penguatan permodalan dalam rangka peningkatan skala usaha ataupun jaminan untuk usaha rintisan.
Bila kategori ke (3) telah berkembang maka dapat diambil alih pelayanan permodalannya oleh perbankan.

Dengan demikian melalui pola pengelolaan keuangan daerah ini maka secara bertahap APBD NTT akan terus meningkat, rakyat semakin sejahtera dan perekonomian daerah NTT akan terus tumbuh dan berkembang dengan pesat.

Ini hanya suatu ide dalam mimpi saya. Tidak ada maksud untuk mengatakan bahwa yang sudah dilaksanakan sekarang ini salah tapi apabila kita mau mencoba cara lain untuk menjadi pembanding rasanya tidak salah juga.

Akhirnya saya mohon maaf apabila tulisan saya ini menyinggung perasaan para pembaca dan juga begitu lemah pola pikirnya serta tata penulisan yang sederhana. Ini hanya suatu tulisan untuk konsumsi saya pribadi bahwa ide/mimpi ini pernah ada dalam hidup saya. Terima kasih dan Tuhan memberkati.

Jumat, 24 Juli 2009

Gereja Nusra Peduli Petani Membangun Kedaulatan Pangan

Pertemuan Pastoral (Perpas) VIII Gereja Regio Nusa Tenggara hari perdana yang berlangsung di Lantai III, Hotel Bintang Sylvia Maumere - Sikka yang berlangsung 21 - 24 Juli 2009 bagi saya merupakan pengalaman pertama mengikuti acara sejenis di kalangan Gereja Katolik maklum karena saya dari lingkungan Gereja Protestan. Sangat menarik, memberikan kesan yang mendalam dan makin membuka wawasan saya...... Betapa tidak pesertanya adalah Uskup Agung Ende Mgr, Vincentius Sensi Potokota, Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang, Uskup Maumere Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira SVD, Uskup Larantuka Mgr. Frans Kopong Kung, Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku, Uskup Denpasar Mgr. Silvester San, dan Uskup Weetebula Mgr. Edmund Woga CSsR disamping itu hadir pula para Romo, Pater dan utusan Petani, Nelayan, Peternak dan Tukang dari masing-masing wilayah tersebut.

Yang lebih menarik lagi topik sentral yang dibahas dan sekaligus menjadi thema dari pertemuan tersebut adalah :
Gereja Nusra Peduli Petani Membangun Kedaulatan Pangan. Benar-benar hampir 90 % bahkan mungkin lebih hanya membicarakan persoalan bagaimana memecahkan persoalan kemiskinan, kerawanan pangan dan gizi buruk di wilayah Nusra....... Para Bapa Uskup begitu serius mengikuti dan memberikan pikiran-pikiran yang luar biasa...... semua peserta terlibat aktif memberikan masukan dan saran yang sangat konstruktif ........ pada saat saya berpikir dan merenungkan inilah bentuk pelayanan Yesus Kristus datang dan hadir dimuka bumi ini untuk menolong orang miskin dan tak berdaya....... saya merinding...... seakan melihat semua yang hadir disitu adalah gambaran kebaikan Tuhan Yesus....... Luar biasa...... Para tokoh agama berbicara tentang pertanian, tentang ketahanan pangan, tentang ekonomi dan tentang teknologi dengan begitu fasihnya........ Saya bersyukur pada Tuhan karena berkatnya sehingga saya diizinkan hadir di forum ini......

Bagi saya, ini merupakan kekuatan dukungan yang luar biasa kuatnya untuk membangun Kedaulatan dan Ketahanan Pangan di Nusa Tenggara Timur...... Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan terlebih institusi yang menangani Ketahanan Pangan benar-benar harus memanfaatkan dan menindaklanjuti hasil-hasil dari pertemuan ini terutama rekomendasi yang dihasilkannya. Upaya untuk mewujudkan Kelompok Basis Gereja (KBG) Mandiri Pangan harus di dukung dengan berbagai program dan kegiatan baik yang bersumber dari APBN, APBD I maupun APBD II dan bergandeng tangan dengan pihak swasta serta Gereja tentunya maka bukan tidak mungkin dalam waktu tidak terlalu lama KBG Mandiri Pangan ini dapat tercapai di Nusa Tenggara Timur......

Saya berharap, Gereja-Gereja Protestan, MUI, Parisadha Hindu dan organisasi-organisasi keagamaan dapat melakukan hal seperti ini karena tentunya semua agama selalu ingin agar umatnya sehat, sejahtera dan bahagia.......... Dan ini harus dilakukan melalui karya-karya nyata bukan hanya melalui khotbah2 saja..... tapi juga turun langsung ke tengah umat dan memberikan solusi-solusi yang dapat dilakukan baik melalui program dan kegiatan yang dibiayai lewat kelembagaan agama maupun mendukung program dan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah.......

Proviciat untuk Panitia Pelaksana Perpas VIII Regio Nusra, karya pengabdian mu akan mendatangkan kesejahteraan bagi umat manusia di NTT ini.......... Terima kasih atas kesempatan yang diberikan pada saya.... Tekad saya melalui bidang tugas dan kerja, saya akan menindak lanjuti rekomendasi-rekomendasi yang dihasilkan pada pertemuan ini.... Mohon dukungan doanya.

Selasa, 26 Mei 2009

Sabu Raijua Menantang......

Hari ini Selasa, tanggal 26 bulan Mei tahun 2009..... sejarah baru dimulai....... Sejarah berdirinya Kabupaten ke 21 di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Sabu Raijua....... Pulau yang kecil... kecamatan yang selama ini menjadi bagian dari Kabupaten Kupang ...... yang selalu menikmati mahalnya harga BBM, susahnya mencari BBM, namun dari Pulau ini, dari suku yang bermukim di Pulau ini banyak Pahlawan terlahir contoh Alm El Tari, Alm Piet A. Talo, dan masih banyak nama-nama lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu disini.

Sejarah baru, lembaran baru dibuka.......... Siapa yang harus mengisi catatan prestasi pada setiap lembaran yang akan dibuat? Seperti apakah sejarah yang akan kita buat? Apa yang menjadi harapan kita pada masa-masa yang akan datang dari Kabupaten termuda di NTT ini?

Mudah2an Kabupaten Sabu Raijua ini bukan dibuat hanya untuk memuaskan nafsu kekuasaan dari segelintir orang yang hanya ingin berkuasa..... bukan hanya karena tidak mau kalah dengan dengan pulau dan suku lainnya di NTT yang telah berhasil membentuk kabupaten baru juga tapi Kabupaten Sabu Raijua memang di bangun untuk menjawab kebutuhan masyarakat di Pulau Sabu Raijua yang sangat jauh dari pelayanan dan akses terhadap berbagai yang menjadi kebutuhan dasar manusia.......... Kabupaten Sabu Raijua hadir untuk suatu misi mempercepat kesejahteraan masyarakat yang tinggal di Pulau Sabu dan Raijua.

Kalau itu tekadnya, maka hal penting dan yang utama adalah bangun Sabu Raijua dalam suatu tatanan yang harmonis, yang tidak memecah belahkan ikatan kekeluargaan yang begitu erat diantara orang Sabu Raijua karena tanpa suasana yang harmonis maka percepatan yang diharapkan tidak mungkin tercapai...........

Percaturan politik untuk menentukan siapa pemimpin di Kabupaten ini harus dilakukan dalam tatanan etika sosial budaya Sabu yang kuat..... Jangan karena perebutan untuk menjadi pemimpin terus segala cara dan upaya dihalalkan dan hasil akhirnya adalah konflik dan perpecahan diantara keluarga sendiri........ tentu ini bukan suatu kondisi yang kondusif untuk membangun Sabu Raijua dalam rangka mengejar berbagai ketertinggalan yang ada disana.

Fokus......... ini juga menjadi kata kunci untuk suatu keberhasilan membangun Sabu Raijua. Kenapa? Kita tahu bersama berapa sih dana yang dialokasikan oleh pemerintah pusat untuk satu kabupaten, nah itu berarti kita harus benar-benar mengelola dengan efektif dan efisien tentunya melalui penetapan prioritas pembangunan dan tentunya itu yang akan menjadi fokus dari setiap insan pembangunan di Sabu Raijua baik itu pemerintah (Eksekutif,) legislatif, swasta/LSM dan masyarakat sendiri. Contoh : dalam menata organisasi pemerintah di Sabu Raijua, jangan asal kita tiru dari kabupaten lain saja tapi buatlah kajian yang benar dan jujur kelembagaan apa saja yang dibutuhkan disana. Kalau ini dilakukan dengan baik maka akan terjadi penghematan dana yang sangat besar dan itu berarti dana tersebut dapat diinvestasikan pada pengembangan ekonomi masyarakat.

Laut............ itulah potensi yang harus digarap oleh pemerintah disana........ Jangan di kelola dengan cara lama seperti perusahaan daerah yang dipimpin oleh orang2 pensiunan tapi harus dikelola secara profesional oleh orang2 yang mempunyai keahlian dibidangnya. Kenapa Sabu Raijua tidak merintis Pengolahan ikan seperti ikan kaleng dan produk2 kelautan lainnya untuk mensuplay kebutuhan di NTT?

Ini mimpi....... ini ide........... ini gagasan ......... ini harapan.........

Saat ini Sabu Raijua menantang kita semua untuk berkontribusi dalam bentuk apapun agar sejarah bahagia hari ini akan mengantarkan masyarakat Sabu Raijua menjadi lebih bahagia dan sejahtera di masa yang akan datang......

Selamat dan sukses atas berdirinya Kabupaten ke 21 di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sabu Raijua........ Semoga Tuhan memberkati kita semua untuk bekerja dengan talenta yang Tuhan sudah berikan pada kita demi kemulian Tuhan yang dicerminkan oleh Kebahagian dan kesejahteraan masyarakat Sabu Raijua. Amin

Minggu, 26 April 2009

NTT Berkabung......

Sabtu malam jam 21.45 wita.... saya mendapat sms dari teman saya tentang berita dukacita telah meninggalnya Bapak Piet A. Tallo, SH di RS Gatot Subroto Jakarta. Saya kaget dan tidak percaya... tapi kemudian saya mencoba mencari informasi kepada beberapa teman dan juga melihat running text di Metro TV..... saya menjadi percaya dan ini bukan mimpi......
NTT telah kehilangan seorang tokoh besar, seorang pemimpin kerakyatan, seorang Bapak yang sangat perhatian pada siapa saja...... dan berbagai gelar/sebutan yang memang sangat pantas untuk diberikan pada Beliau.........
Sebenarnya........ Tulus ..... Kami masih rindu dan sangat membutuhkan kehadiranmu di bumi Flobamora tercinta ini.... Kami masih butuh berbagai pikiran brilliant mu, kami masih butuh nasehat mu, kami masih butuh ketokohan mu, kami butuh figur kebapakan mu...... tapi kenapa harus secepat ini ......
Tapi sebagai rakyatmu, sebagai anak mu kami juga menyadari betapa Engkau begitu menderita dengan beban alat-alat medis yang harus terus bersama mu........ Mengingat akan hal itu kami menjadi pasrah dan berkata..... Inilah yang terbaik yang Tuhan Yesus sediakan bagi mu.... Sekarang Engkau telah bahagia bersama Tuhan Yesus di rumah Bapa yang Kekal..... Disana tidak ada lagi penderitaan, disana tidak ada lagi beban....... Kami yakin itu ...... karena Engkau telah memberikan jiwa dan raga mu, Engkau telah membaktikan dirimu setengah dari umur mu hanya untuk NTT tercinta...... Flobamora tercinta......
Harapan kami Engkau tetap memperhatikan kami dari sana....... Biarlah kami anak-anakmu warga NTT akan terus melanjutkan usaha dan upaya mu untuk membangun NTT tercinta... menjadi daerah yang sejahtera, provinsi yang tidak tertinggal dari provinsi lain di bumi pertiwi ini......... Bekal yang telah Engkau berikan untuk kami selama ini akan kami pakai, akan kami kembangkan demi pengabdian kami di NTT tercinta.

Selamat Jalan Pak Piet ......... Doa kami selalu bersama mu........

Selasa, 07 April 2009

Tawaran Kerjasama Pengembangan Masyarakat di NTT

Sejak 31 Desember 2008 Program PIDRA di NTT telah berakhir dalam aktivitas pendampingannya pada masyarakat. Seperti yang telah kami tulis pada artikel-artikel sebelumnya tentang PIDRA di NTT sekali lagi kami ingin menyampaikan bahwa Program PIDRA telah berhasil membangun 897 Kelompok Mandiri Program (KMP) yang berdasarkan hasil evaluasi terakhir menunjukan hasil 90% berada pada kategori Baik sampai dengan Sangat Baik. Disamping itu ada 94 Federasi yang merupakan gabungan dari KMP-KMP disetiap desa pelaksana program dimana aktivitas mayoritas mereka adalah : simpan pinjam (Keuangan Mikro), pemasaran bersama berbagai komoditi pertanian, dan juga pertokoan. Sedangkan untuk penanganan pengembangan sarana prasarana umum, konservasi lahan (DAS) dan kegiatan fisik lainnya telah ada Lembaga Pembangunan Desa (LPD) dimana mereka telah mempunyai kemampuan, perencanaan, pelaksanaan dan monitoring evaluasi yang cukup kuat. Inilah kekuatan yang kami punya saat ini, disamping itu masih ada 5 Lembaga Sawadaya Masyarakat di Kabupaten Pelaksana, yaitu TTS (Yayasan OISCA), TTU (Yayasan Mitra Tani Mandiri), Alor (Yayasan Obor Swadaya), Sumba Timur (Yayasan Pahadang Manjoru) dan Sumba Barat, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya (Yayasan Satu Visi) yang siap berkolaborasi dalam berbagai kegiatan pemberdayaan di daerah tersebut.
Mereka memang sudah mempunyai kemampuan atau kekuatan tapi mereka juga masih terus diperhadapkan dengan berbagai dinamika perkembangan ekonomi dan sosial sehingga mereka masih harus terus diperkuat kapasitasnya terutama dalam hal pengembangan kelembagaan keuangan mikro, pemasaran bersama, perluasan skala usaha, pengembangan jejaring dengan pihak lain, serta kerjasama dengan pihak-pihak lembaga permodalan dan juga upaya untuk peningkatan sarana prasarana umum di pedesaan yang masih minim. Untuk itu, saya mengajak kepada semua pihak yang terpanggil untuk mengembangkan masyarakat di NTT sehingga mereka makin kuat dan sejahtera. Ajakan ini ditujukan kepada perorangan ataupun lembaga, dalam negeri maupun luar negeri, dengan berbagai model kerjasama seperti hibah maupun pinjaman lunak atau hubungan kemitraan lainnya. Bagi yang berminat dapat menghubungi kami melalui Email : ryanot268@yahoo.com untuk dapat bernegosiasi lebih lanjut.
Mudah-mudahan melalui cara ini kita dapat membagikan kelebihan kekuatan yang ada pada kita agar dapat dipakai untuk menguatkan mereka yang baru terangkat kepermukaan dari berbagai keterpurukan mereka. Terima kasih atas perhatian dan dukungannya. Tuhan memberkati.

Senin, 02 Maret 2009

Tonggak Baru Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian di NTT

Pada tanggal 30 Desember 2009, Gubernur Nusa Tenggara Timur telah melantik para Pejabat Esolon II di lingkup Pemerintahan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sesuai dengan penataan Organisasi Perangkat Daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 melalui penetapan PERDA-PERDA organisasi di pemerintah Provinsi NTT khususnya PERDA No 11.Tahun 2008 tentang Lembaga Teknis Daerah Provinsi NTT. Di dalam PERDA NO 11 Tahun 2008 inilah yang menjadi dasar hukum berdirinya Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Badan ini merupakan Institusi baru di lingkup pemerintahan Provinsi NTT yang merupakan penggabungan dari dua sistem besar dalam Pembangunan Pertanian, yaitu Sistem Ketahanan Pangan dan Sistem Penyuluhan Pertanian. Badan ini juga sekaligus merupakan penjabaran lebih lanjut dari dua Undang-Undang, yaitu Undang-Undang No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan dan Undang-Undang No 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K). Sehingga pada periode 2001 - 2008 Badan ini bernama Badan Bimas Ketahanan Pangan Prov. NTT maka sejak tanggal 30 Desember 2008 telah berubah nama menjadi Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Prov. NTT.
Kenapa menjadi tonggak sejarah baru bagi penyuluhan di NTT? Memang sejak berlangsungnya otonomi di bidang penyuluhan, yaitu pada tahun 1992 Departemen Pertanian menyerahkan semua urusan penyuluhan kepada pemerintah daerah maka aktivitas penyelenggaraan penyuluhan berlangsung sesuai dengan kebutuhan dan pemahaman daerah tentang pentingnya penyuluhan pertanian sehingga ini tergambar dari organisasi yang ada di masing-masing daerah variatif dan juga dukungan pemerintah daerah tersebut. Apalagi sejak pemberlakuan otonomi daerah tahun 2001 penyelenggaraan penyuluhan pertanian makin terpinggirkan sehingga boleh dikatakan sampai dengan saat itu Penyuluhan Pertanian sedang mati suri.
Angin segar penyuluhan pertanian mulai bertiup pada saat Bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY) Presiden RI mencanangkan Revitalisasi Pertanian dan termasuk Revitalisasi Penyuluhan Pertanian tahun 2005 dan yang paling membanggakan adalah terbitnya Undang-Undang No 16 Tahun 2006 tentang SP3K.
Di NTT khususnya di tingkat Provinsi NTT Badan ini merupakan kelembagaan yang benar-benar syah secara regulasi yang ditugaskan untuk mengurus Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan umumnya dan Pertanian pada khususnya.
Di Badan ini ada 3 (tiga) Bidang (Eselon III) yang khusus menangani penyuluhan, yaitu Bidang Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan kehutanan, Bidang Kelembagaan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan kehutanan dan Bidang Ketenagaan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan kehutanan. Melalui Bidang-bidang ini pada khususnya dan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan pada umumnya ditaruh harapan yang besar untuk kembali menghidupkan penyelenggaraan penyuluhan pertanian secara lebih bergairah, berhasil guna dan berdaya guna. Begitu besar harapan yang diberikan kepada Badan ini untuk mengefektifkan berbagai kegiatan penyuluhan baik pada tatanan penyelenggaraan, kelembagaan maupun ketenagaan sehingga akan dapat berdampak pada peningkatan produktivitas, peningkatan produksi, peningkatan daya saing, peningkatan sumberdaya manusia petani dan pada gilirannya peningkatan kesejahteraan petani dan keluarganya pada khususnya dan masyarakat NTT pada umumnya.
Ini memang tonggak sejarah baru dalam penyelenggaraan penyuluhan di NTT secara tatanan kelembagaan tapi yang paling di tunggu-tunggu adalah pada tatanan pelaksanaan tugas dan fungsinya sehingga harapan itu bisa menjadi kenyataan.
Selamat Datang Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi NTT, kami tunggu gebrakan-gebrakan yang totalitas demi kesejahteraan masyarakat NTT. Selamat bekerja dan selamat berjuang.

Catatan : Dalam beberapa waktu ke depan saya akan menulis tentang permasalahan-permasalahan dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian di NTT dan juga saran-saran untuk perbaikannya.

Senin, 19 Januari 2009

Satu lagi yang membanggakan.......

Tanggal 19 Januari 2009 kembali mencatat sejarah baru bagi perkembangan pendampingan masyarakat miskin di lahan kering dan terpencil (PIDRA) khususnya di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Provinsi NTT. Sangat bersejarah karena pada hari itu Bupati Timor Tengah Utara menyerahkan langsung Badan Hukum Koperasi kepada 2 (dua) Federasi di Kab. TTU, yaitu Federasi Natal di Desa Fafinesu C dan Federasi Bineno di Desa Jak dalam suatu upacara Bendera di halaman Kantor Bupati TTU.

Penghargaan ini memang pantas mereka terima ........ Perjuangan 8 (delapan) tahun mulai dari membentuk Kelompok Mandiri (KM), membentuk Federasi sampai dengan mempunyai Badan Hukum Koperasi.......... Orang-orang Desa........ pendidikan hanya sampai SD bahkan tidak tamat SD, miskin, terpencil dan terbatas sarana prasarana umum namun sekarang mereka bisa tunjukkan bahwa mereka mampu, mereka bisa dan mereka berjanji akan terus melanjutkan kerja keras mereka sehingga mereka akan berkembang menjadi konglomerat2 Desa nanti pada waktunya.

Memang mereka dapat lakukan ini atas pendampingan dari teman-teman Sekretariat Program PIDRA dan LSM Mitra Tani Mandiri.......... tapi teman-teman hanya menjadi fasilitator dan mereka lah pelaku utamanya.......... Sekarang teman-teman Sekretariat Program dan LSM mulai mengurangi frekuensi pendampingan karena program PIDRA sudah selesai tahun 2008 kemarin....... Namun saya yakin mereka tidak akan bubar, mereka tidak akan mati aktivitas malahan mereka akan terus dan terus berkembang menggapai visi mereka yang terus berkembang sejalan dengan dinamisasi aktivitas mereka......

Selamat dan Sukses untuk Pak Vincent Nurak cs, Pak Beny Ulumeak cs, dan Pak Primus Siribein atas hasil kerja yang membanggakan ini.........

Selamat dan Sukses untuk Federasi Natal dan Federasi Bineno........... Maju terus dengan semagat dan kerja keras pasti Tuhan akan memberkati segala usaha dan upaya kalian........

Ini kado Tahun Baru sekaligus Tanda Mata perpisahan dengan Program PIDRA......

Selasa, 30 Desember 2008

SELAMAT NATAL 25 DESEMBER 2008 DAN SELAMAT TAHUN BARU 2009.
SEMOGA MELALUI SEMANGAT BARU DAN YANG TERUS TERBAHARUI KITA MAKIN GIAT MELAKUKAN UPAYA-UPAYA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT SEBAGAI BAGIAN DARI TANGGUNG JAWAB KITA SEBAGAI WARGA NEGARA DAN INSAN YANG PERCAYA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA.

Rabu, 10 Desember 2008

Perhentian Sementara Dari Suatu Perjalanan Panjang

Tahun 1997, ini merupakan langkah pertama dari sejumlah langkah yang tidak terhitung sampai akhir Desember 2008. Disini dilangkah pertama ini kita mulai berpikir tentang bagaimana mengentaskan kemiskinan di daerah lahan kering, terpencil, terbatas sarana prasarana, terbatas akses, tingkat pendidikan yang rendah, tingkat kesehatan yang rendah dan keterbatasan-keterbatasan lainnya yang menjadi santapan harian mereka. Inilah langkah awal dari suatu pemikiran sederhana bagaimana mengentaskan kemiskinan?

Berbagai pihak terlibat dalam upaya mengimplementasikan pemikiran sederhana tapi mulia ini. Pemerintah Pusat, Departemen Pertanian, IFAD, Perguruan Tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Pemerintah Daerah baik ditingkat Provinsi maupun ditingkat Kabupaten khususnya Dinas/Badan lingkup pertanian dan masyarakat sendiri. Semua bekerja keras...... semua berupaya memberikan kontribusi yang terbaik .......... semua memberikan berbagai pengorbanan hanya dengan satu tujuan terformulasinya suatu model pemberdayaan yang dapat mengentaskan kemiskinan......... Keringat, airmata, keluh-kesah, kecelakaan, konflik, senyum, tawa, canda dan berbagai ekspresi ada disini. Semua ini menghasilkan suatu Loan Agreement 539 ID pada bulan Juni 2000. Dan selanjutnya secara konsisten pemerintah Indonesia baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten mempersiapkan dokumen keuangan untuk Program ini yang disebut atau yang dikenal dengan nama Participatory Integrated Development In Rainfed Areas (PIDRA) dan secara pararel juga di tingkat provinsi dan kabupaten mempersiapkan penjaringan LSM yang akan menjadi mitra pemerintah dalam pelaksanaan Program PIDRA ini. Program ini merupakan pengalaman perdana saya dalam mempersiapkan suatu program bantuan/pinjaman luar negeri memang berbeda dengan persiapan program/kegiatan dari dana yang bersumber dari pemerintah RI. Pada program dana luar negeri segala sesuatu dipersiapkan dulu mulai organisasi pelaksana, metode dan pola pendekatan, sistem perencanaan, mekanisme pertanggung jawaban keuangan, mekanisme pengadaan barang, sistem monitoring dan evaluasi dan kebutuhan dananya per kegiatan baru dibuat dokumen keuangannya. Sedangkan pada kegiatan dengan sumber dana dari pemerintah RI ada uangnya baru dibuat kegiatannya dan kegiatan hanya bersifat tahunan. Mungkin ini perlu kita pelajari untuk penerapannya di negara kita tercinta.

Pada tahapan implementasi terutama pada tahun-tahun permulaan (1-3 tahun), banyak tantangan yang harus dihadapi oleh pelaksana program, seperti kerjasama dengan pemerintah dengan LSM dua kutub yang berbeda harus bersama-sama menjalankan satu program luar biasa pengalaman yang ditimba disini, disisi lain para pelaksana (aparat pemerintah) dihadapkan dengan pola yang sangat berbeda dengan yang biasa dilaksanakan, diwaktu lalu aparat pemerintah kalau ketemu dengan masyarakat/petani selalu datang dengan membawa janji, bawa bantuan (anakan, bibit, pupuk atau uang dan lain-lain) tapi di program PIDRA tidak ada yang dibawa untuk diberikan kepada masyarakat. Dipihak masyarakat, mereka berpikir dengan masuknya program pemerintah apalagi dana bersumber dari luar negeri pasti akan mendapatkan uang atau barang yang banyak tapi kenyataannya tidak; apalagi ditambah konsep program ini adalah menabung, mana bisa orang miskin bisa menabung? Pegawai Negeri Sipil saja banyak yang tidak punya tabungan. Dan masih banyak tantangan-tantangan lainnya. Namun sekali lagi ini merupakan pengalaman yang berharga, mahal dan susah dicari dimana saja. Saya bersyukur menjadi salah satu pelaksana program ini apalagi saya diberikan kesempatan untuk mendampingi program ini mulai dari awal sampai dengan saat ini.

Program ini dirancang dalam pelaksanaannya donatur (IFAD) akan melakukan supervisi secara langsung setiap tahunnya untuk mengevaluasi pelaksanaan program, menemukan masalah, hambatan bahkan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program terutama yang berkaitan metode dan pola pendekatan program sehingga secara cepat dapat dilakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan bila antara terori pada program tidak sejalan dengan kondisi nyata dalam pelaksanaannya. Pada kegiatan ini setiap tahunnya datang para konsultan dari IFAD, mereka benar-benar mempunyai kapabilitas yang hebat pada bidang ilmunya dan sangat profesional dalam menjalankan tugasnya. Sekali lagi ini merupakan kesempatan belajar yang sangat berharga, belajar langsung dilapangan. Dengan cara ini maka program menjadi sangat fleksibel, partisipatif, kreatif dan inovatif sehingga program ini berjalan sangat dinamis sejalan dengan dinamika pada masyarakat dampingan.

Fase I berakhir pada tahun 2004. Luar biasa ........ Selama pendampingan program, hampir 90 % kita fokus pada capacity building, berkutat-katit pada konsistensi pelaksanaan proses menyampingkan persoalan input-ouput tapi apa yang terjadi benar-benar diluar perkiraan kami pelaksana program, Modal umum kelompok orang-orang miskin di desa miskin pada daerah terpencil bisa mencapai angka Rp. 4 milyard. Kegiatan-kegiatan usaha produktif berkembanga dengan pesat, para wanita/perempuan berkembangan dalam berbagai peran, para anggota kelompok mulai diperhitungkan dalam proses pembangunan dan kepemerintahan di tingkat desa. Timbul harapan baru, ekonomi pedesaan makin bergeliat, kesehatan makin membaik, pendidikan makin membaik dan sarana prasarana umum dipedesaan makin membaik, jalan desa, dusun dan bahkan yang terisolir mulai bisa dijangkau sarana transportasi umum dan hebatnya desa-desa yang selama Indonesia merdeka belum pernah dikunjungi pejabat tinggi dari kabupaten (Bupati, DPRD dan lain-lain) mulai dikunjungi. Suatu kejadian luar biasa yang terjadi di NTT pada tahun 2005 yaitu rawan pangan oleh karena kekeringan yang berkepanjangan dari musim tanam 2004/2005 menjadi suatu momentum bersejarah bagi program PIDRA di NTT karena seluruh desa PIDRA yang merupakan desa langganan rawan pangan sebelum program ini masuk, pada waktu itu (2005) tidak ada satupun desa yang rawan pangan. Hal ini dibuktikan dengan kunjungan Wakil Gubernur NTT (sekarang Gubernur NTT), Ketua DPRD dan jajaran pejabat-pejabat tinggi tingkat provinsi dalam kunjungan mereka ke kabupaten TTS mulai dari desa-desa rawan pangan di Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang, masuk ke Batu Putih sampai ke Kolbano Kecamatan Amanuban Selatan Kabupaten TTS semuanya ditimpa rawan pangan dan gizi buruk tapi begitu sampai di Desa Nakfunu (salah satu Desa PIDRA) disana tidak ada rawan pangan bahkan bahan makanan berkelimpahan dan yang lebih bangga lagi desa-desa PIDRA di TTS bersatu memberikan bantuan kepada desa-desa yang terkena rawan pangan dan gizi buruk di TTS.

Tidak terasa tahun 2008 sudah hampir berakhir tinggal beberapa hari lagi, itu berarti program PIDRA fase II akan berakhir. Untuk itu pada awal Desember 2008, tim Review IFAD yang dipimpin oleh Mr. Aloysius Fernandez seorang ahli pemberdayaan masyarakat dan mikrofinance dari India yang di PIDRA kita sebut juga sebagai Mbah-nya (Kakek) PIDRA dengan beberapa ahli kelembagaan, monev, keuangan dan Gender melakukan evaluasi dan mereka memberikan apresiasi kepada masyarakat dan pelaksana program PIDRA karena telah berhasil melaksanakan tugasnya. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan masyarakat (Kelompok Mandiri Program, Lembaga Pembangunan Desa dan Federasi) masyarakat selalu menyampaikan permintaan dan harapan untuk pendampingan pola PIDRA bisa tetap dilanjutkan karena mereka masih butuh pola seperti ini mereka masih harus banyak belajar lagi untuk berhadapan dengan tantangan yang lebih besar lagi di waktu mendatang. Begitu pula waktu bertemu dengan Bapak Gubenur NTT, Drs. Frans Leburaya di rumah jabatan Gubernur, terungkap pernyataan Bapak Gubernur bahwa Provinsi NTT masih membutuhkan pola pendekatan program PIDRA ini karena masih banyak masyarakat miskin di NTT ini dan Bapak Gubernur yakin kalau program seperti PIDRA ini masih terus berlanjut di NTT maka Provinsi NTT akan lebih cepat sejahtera untuk itu Bapak Gubernur menyarankan melalui Tim Review untuk menyampaikan keinginan Beliau dan masyarakat NTT agar IFAD masih mau meneruskan dukungannya untuk pembangunan di NTT pada waktu-waktu yang akan datang.

Program memang akan berakhir, tapi kami pelaksana program telah melakukan berbagai upaya yang kami sebut ”Exit Strategy” sehingga kami punya keyakinan bahwa walaupun program telah berakhir tapi seluruh kelembagaan masyarakat yang ada di desa (KM, LPD maupun Federasi) akan terus berjalan dan berkembang karena itu proyek mereka dan bukan proyek kami. Itu kebutuhan mereka dan mereka sadar bahwa dengan cara ini mereka akan dapat hidup lebih baik lagi .... lebih sejahtera lagi. Tapi secara sadar juga kita pelaksana Program PIDRA baik pemerintah maupun LSM melihat tantangan-tantangan terutama dalam upaya peningkatan skala usaha, mereka masih akan berhadapan dengan berbagai kesulitan. Mudah-mudahan masih ada yang akan membantu mereka, mendampingi mereka dan mengantar mereka untuk menjadi konglomerat-konglomerat pedesaan yang sukses.

Selasa, 25 November 2008

Refleksi Dari Membangun Kebersamaan

Tidak terasa kita akan mengakhiri tahun 2008 ini. Saya yakin bahwa setiap waktu atau kurun waktu mempunyai makna bagi setiap orang, apakah makna yang menggembirakan atau sukacita maupun makna yang menyedihkan dan kurun waktu itu akan menjadi landasan kita dalam upaya berbuat dan berkarya lebih baik lagi bagi masa atau waktu mendatang............

Bagi Saya dan mungkin seluruh pelaksana program PIDRA beserta stakeholders lainnya tahun 2008 ini mempunyai makna yang sangat penting dan strategis. Kenapa? Tahun 2008 ini merupakan tahun terakhir dari waktu pendampingan program PIDRA dalam membangun kapasitas masyarakat dan kelembagaan masyarakat miskin bahkan sangat miskin di pedesaan terpencil, kering dan terbatas sarana prasarananya. Delapan tahun sudah kita bekerja bersama-sama dan bekerjasama untuk mencapai Visi Program: Peningkatan taraf hidup masyarakat miskin secara berkelanjutan pada wilayah lahan kering di Provinsi Jawa Timur, NTB dan NTT; Misi Program: Mewujudkan kondisi yang mendukung peningkatan taraf hidup dan kemampuan keluarga miskin dalam merealisasikan kegiatan untuk peningkatan pendapatan serta lingkungan sumber daya alam secara berkelanjutan. Untuk tercapainya visi dan misi program, program PIDRA menggunakan pendekatan program, yaitu : Partisipatif, Fleksibel, Perspektif Jender, Pendampingan LSM, Keberlanjutan dan Desentralisasi. Target atau sasaran dari program PIDRA adalah, Tiga propinsi (Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, 14 kabupaten (Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab, Trenggalek, Kab. Tulungagung, Kab. Blitar, Kab. Lumajang, Kab. Sumbawa, Kab. Dompu, Kab. Bimas, Kab. TTS, Kab. TTU, Kab. Alor, Kab. Sumba Timur dan Kab. Sumba Barat), 237 desa, 2.370 Kelompok Mandiri, 100 Federasi, 237 Lembaga Pembangunan Desa dan 100.000 Kepala Keluarga.

Pelaksanaan Program PIDRA ini dimulai tahun 2001 tapi persiapan pelaksanaan program ini dimulai dari tahun 1997 pada waktu terjadi krisis ekonomi nasional dan dunia sampai dengan penandatangan Loan Agreement pada tahun 2000. Memang bukan waktu yang panjang untuk suatu pekerjaan besar dengan tujuan yang mulia namun secara manusia 1997 – 2008 merupakan suatu jangka waktu kerja yang panjang dengan penuh perjuangan, kerja keras, pengorbanan materil, moril bahkan pengorbanan jiwa dan raga (ada beberapa orang pelaksana program yang meninggal dunia pada waktu menjalan tugas program PIDRA).

Hasilnya khusus di NTT pada 5 kabupaten (TTS, TTU, Alor, Sumba Timur dan Sumba Barat) dan 94 desa telah berhasil ditumbuhkan bersama-sama dengan masyarakat 897 kelompok mandiri hasil dan dari hasil penilaian terakhir (triwulan III tahun 2008) ada 90 % masuk kategori Sangat baik dan baik (menuju kemandirian dan keberlanjutan), 8 % masuk kategori sedang (masih perlu didampingi untuk mandiri dan berkelanjutan) dan 2 % masih pada kategori kurang (masih perlu pendampingan dalam kurun waktu yang panjang untuk menuju kemandirian dan berkelanjutan). Kekayaan seluruh kelompok mandiri program sebesar Rp. 14 Milyar dengan berbagai usaha produktif baik perorangan maupun kelompok. Untuk meningkatkan daya saing, posisi tawar dan memperkuat usaha maka kelompok mandiri di setiap desa telah membentuk suatu gabungan kelompok yang disebut Federasi. Sampai saat ini sudah ada 94 Federasi dengan kekayaan seluruh Federasi adalah Rp. 2 Milyar dengan aktivitas utama adalah pemasaran hasil bersama, simpan pinjam dan waserda. Sedangkan khusus untuk menangani perencanaan, pembangunan, evaluasi dan pemeliharaan sarana prasana umum tingkat pedesaan dan konservasi sumberdaya alam telah terbentuk 94 Lembaga Pembangunan Desa (LPD) yang telah berhasil membangunan berbagai sarana prasarana umum tingkat desa seperti jalan desa, PAH, Perpipaan, Pemeliharaan Mata Air, pasar desa, perbaikan (sekolah, tempat ibadah, puskesma dan posyandu), embung-embung mini, biogas, terasering, kebun bibit desa, penanaman tanaman keras, dan lain-lain. Melalui LPD ini juga telah berhasil dirumuskan Rencana Strategis (renstra) pengelolaan sumberdaya alam bahkan ada yang telah ditetapkan dalam bentuk peraturan desa. Secara singkat telah terjadi perubahan yang begitu besar dan mendasar baik yang bersifat perilaku, polapikir, kepercayaan diri, kepemilikan asset, pengelolaan sumberdaya alam yang semakin baik, berkembangnya berbagai usaha produktif, peranserta dalam pemerintahan desa, serta perubahan-perubahan lain di bidang pendidikan, kesehatan dan juga yang terutama adalah perubahan dari desa yang rawan pangan menjadi desa yang tidak pernah rawan pangan lagi. Beberapa model yang sudah mulai di replikasi oleh pihak lain seperti model pemasaran bersama, model pengelolaan sumberdaya alam, dan model pengembangan ketahanan pangan berbasis masyarakat. Disamping itu kelompok mandiri, federasi dan LPD juga telah dimanfaatkan oleh berbagai institusi lain untuk melaksanakan program dan kegiatan mereka.

Apa yang saya tulis diatas hanya merupakan gambaran umum keberhasilan program, masih banyak persoalan dan masalah yang dihadapi oleh pelaksana program bersama, kelompok mandiri, federasi dan LPD yang masih harus kita hadapi terutama setelah program ini selesai 31 Desember 2008 ini. Gambaran keberhasilan diatas hanya sebagai gambaran atas suatu hasil kerja bersama baik itu dari pihak pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan dan desa maupun dari pihak LSM baik ditingkat Pusat, Provinsi, kabupaten dan desa.

Keberhasilan ini bukan merupakan keberhasilan dari para pelaksana program di fase II ini saja tapi ini merupakan akumulasi hasil kerja mulai dari tahun pertama (2001) waktu itu ditingkat Provinsi NTT ada LSM Utama yaitu Yayasan Bina Swadaya Jakarta dengan personilnya ada Pak Yoseph Fola, Ibu Irawati, Ibu Nursulystiati ( Lilis), Pak Agung, Ibu Christiana, Pak Da Costa, Ibu Ody sedangkan di tingkat kabupaten khusus yang berubah yaitu LSMP Sumba Barat, Yayasan Wahana Komunikasi Wanita Ibu Wiyati yang pada fase kedua diganti oleh Yayasan Satu Visi bersama LSM Oisca di TTS, Mitra Tani Mandiri di TTU, Obor Swadaya di Alor dan untuk Sumba Timur Yayasan Ie Hari Pak Wilem Dere yang pada fase ke dua diganti oleh Yayasan Pahadang Manjoru. Begitu pula di tingkat Sekretariat Provinsi NTT maupun tingkat kabupaten yang para pelaksananya banyak yang telah menjadi pejabat-pejabat penting di tingkat Provinsi maupun kabupaten. Kami semua memulai dari Nol menjalankan program ini dengan berlandaskan pada Staf Apraisal Report (SAR) dan berbagai pelatihan serta kemampuan dan keahlian dari kawan-kawan LSM bersama-sama kita melaksanakan program ini. Berbagai benturan karena perbedaan pemahaman, latar belakang (pemerintah dan LSM), ego dari masing-masing lembaga seperti pola yang biasa digunakannya lebih baik dan tepat dari pada pola yang disarankan oleh lembaga lain, perbedaan-perbedaan konsep pribadi dari para ahli/konsultan dan benturan-benturan lainnya sehingga perlu waktu yang cukup panjang kurang lebih 3 tahun (2001 – 2003) baru bisa terjadi kesamaan persepsi, kebersamaan, harmonisasi, dan team work makin solid, namun sayang fase I hanya tinggal 1 tahun (2004) dan hasil rewiev IFAD merubah struktur organisasi pelaksana dimana LSM Utama yang ada di masing-masing provinsi di hilangkan dan diganti dengan LSM Nasional dan menempatkan tenaga ahli dari LSMN di masing-masing provinsi. Namun sebenarnya pola ini baru berjalan pada tahun pertengahan 2006 sehingga selama tahun 2005 praktis pendampingan LSM kurang tapi ini juga suatu berkat tersendiri karena pengalaman ini menunjukkan bahwa Relawan desa (VCO), LSMP dengan kemampuan terbatas, kelompok-kelompok mandiri bersama Sekretariat PIDRA mampu terus berjalan dan tidak sampai mati atau bubar.

Membangun kebersamaan itu ternyata tidak mudah apalagi kebersamaan antara pemerintah dengan LSM. Namun kami para pelaksana program PIDRA fase I telah berhasil membangun kebersamaan itu dan ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi kami semua.

Keberhasilan sekarang (Fase II) bukan semata-mata merupakan kekuatan, kemampuan dan kehebatan para pelaksana program pada fase II tapi sebenarnya juga karena kontribusi yang sangat besar dari pelaksana program di fase I yang telah meletakkan dasar dan mengembangkan program ini. Untuk itu secara pribadi tulisan ini sebenarnya ingin mengungkapkan rasa terima kasih dan penghargaan saya kepada para pelaksana program baik di Sekretariat Program PIDRA (Unsur Pemerintah) maupun di LSM mulai dari Pusat sampai ke para pendamping lapangan di tingkat desa, tanpa kontribusi kawan-kawan semua tidak mungkin akan memberikan hasil seperti saat ini. Besar harapan saya kawan-kawan pada fase I mau memberikan sumbangan tulisan pengalaman selama bekerja pada program PIDRA fase I terutama kepada kawan-kawan di Bina Swadaya mudah-mudahan maupun menyumbangkan tulisan tentang kajian pemberdayaan masyarakat miskin dengan pola PIDRA selama 4 tahun kita bermitra di NTT.

Akhirnya, jasa dan pengabdian dari kawan-kawan semua tidak bisa kami balas secara langsung namun kami yakin dan percaya bahwa Tuhan Yang Maha Esa akan membalas budi dan jasa kawan-kawan dalam karya dan kehidupan kawan-kawan beserta keluarga. Saya punya kerinduan dengan kawan-kawan semua sehingga kalau berkenan bagaimana kita buat paguyuban PIDRA? Mungkin paguyuban ini bisa menyumbangkan sesuatu bagi pemberdayaan masyarakat miskin di NTT. Saya tunggu respon kawan-kawan semua.